Jejak Emansipasi Perempuan dari Indonesia ke Arab Saudi
Kartini dan Emansipasi Wanita di Arab Saudi
Sumber: Wikipedia, Kartini – https://id.wikipedia.org/wiki/Kartini
21 April, dikenang sebagai hari Kartini. Kalimat "Habis Gelap Terbitlah Terang" menggema pada setiap penyampaian pidato di peringatan ini.
Kartini disebut sebagai wanita yang melampaui zamannya, yang kala itu telah menyuarakan emansipasi, kesetaraan gender, dan kebebasan dari belenggu tradisi yang mengekang perempuan. Ia disebut sebagai sosok yang terpengaruh oleh gerakan freemasonry dan Teosofi, karena berpikiran liberal.
Di Saudi, upaya emansipasi wanita telah lama dilakukan. Di mana, kaum perempuan bukanlah dianggap sebagai makhluk kelas dua.
Pada tahun 1959, Raja Saud bin Abdul Aziz mengeluarkan keputusan untuk membentuk Direktorat Umum Pendidikan Putri. Setahun kemudian, tepatnya pada 1960, sekolah-sekolah di Arab Saudi mulai menerima siswi baru. Kemudian, pada tahun 1970, didirikan kampus khusus perempuan pertama yang juga dikenal sebagai yang terbesar di dunia, yaitu Princess Nourah University (PNU).
Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, pada 9 Februari 2026 menerima gelar doktor honoris causa dalam bidang perjuangan perempuan, peran di pemerintahan, dan kemanusiaan. Ibu Mega menjadi satu-satunya warga Indonesia, sekaligus non-Arab pertama, yang memperoleh gelar kehormatan dari Princess Nourah University (PNU).
Visi 2030 yang dipegang oleh Saudi, menempatkan kaum wanita pada posisi strategis. Dimana wanita telah
dibolehkan mengendarai mobil sendiri tanpa harus mengandalkan sopir, perusahaan
harus menerima karyawan wanita, dan setiap tempat usaha harus ada porsi wanita
yang jadi karyawannya.
Di supermarket, pasar, dan swalayan seperti Al Othaim dan Bin Dawood, banyak para kasir adalah wanita-wanita Saudi, yang pemandangan ini tak lazim di lihat pada 1 dekade ke belakang.
Perempuan juga mulai menempati posisi strategis dalam pemerintahan. Salah satunya adalah Reema binti Bandar Al Saud, putri raja yang menjadi perempuan pertama menjabat sebagai Duta Besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat sejak tahun 2019 hingga sekarang. Untuk level kota, 2 tahun lalu, pemerintah Saudi memberika SK Kepala Dinas Pendidikan Kota Jeddah kepada Ustadzah Manal binti Mubarak Al Luhaibi.
Kesetaraan perempuan di Arab Saudi, terutama dalam bidang pendidikan, pekerjaan, dan hak sebagai warga negara, kini mencapai kemajuan yang signifikan. Perempuan memiliki peluang yang setara dengan laki-laki.
Pada masa lalu, perempuan Saudi sangat bergantung pada laki-laki, termasuk dalam mobilitas sehari-hari karena harus diantar ke berbagai tempat. Kondisi ini sempat membuat kebutuhan akan sopir dari Indonesia cukup tinggi. Namun, setelah perempuan diperbolehkan mengemudi sendiri, kebutuhan terhadap sopir dari luar negeri pun tidak lagi sebesar sebelumnya.
Sebelumnya, perempuan di Arab Saudi yang bercerai atau ditinggal wafat suaminya kerap mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup diri dan anak-anaknya. Kini, mereka telah memiliki peluang untuk bekerja dan mandiri secara ekonomi.
Di masa lalu, jabatan-jabatan penting dalam pemerintahan didominasi oleh laki-laki. Namun saat ini, perempuan juga memiliki kesempatan dan peluang yang setara untuk menempati posisi tersebut.
Sejumlah kebijakan lain pun mulai lebih fleksibel, seperti pelaksanaan ibadah haji tanpa mahram yang kini diperbolehkan. Begitu pula bagi perempuan asing yang ingin menempuh pendidikan di Arab Saudi, tidak lagi diwajibkan didampingi mahram.
Perubahan ini sejalan dengan upaya mewujudkan tujuan dalam Visi 2030 Arab Saudi, yaitu menciptakan warga negara yang mampu bersaing secara global.
Riyadh, 21 April 2026
Penulis Budi Martha Saudin Lc. adalah Seorang Jurnalis yang sedang menuntut ilmu di King Saud University
Pengolah Informasi/Penyunting : Annisa Nurul Pratiwi
Instagram : dp3appkb.kotacirebon
Kontak Perasaan : 0817122271
Terkini
Terpopuler