Sekda Jabar Inisiasi Modul Pertolongan Pertama Jika Hati Terluka untuk Perkuat Ketahanan Mental Generasi Muda
Cirebon, 5 Maret 2026 - Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat menyoroti keprihatinan atas kasus bunuh diri yang terjadi di kawasan Pasopati. Kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan kesehatan mental generasi muda harus menjadi perhatian serius dan ditangani secara sistematis oleh seluruh pihak.
Indonesia sendiri saat ini menghadapi tantangan meningkatnya kerentanan psikologis, terutama pada anak dan remaja. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menegaskan komitmennya bahwa kasus serupa tidak boleh terjadi dan harus dicegah melalui langkah-langkah yang lebih terstruktur, preventif, dan kolaboratif.
Menurut Sekda Jabar, kondisi ini tidak terlepas dari berbagai perubahan besar yang memengaruhi kehidupan generasi muda saat ini, yang dikenal sebagai fenomena triple disruption, yaitu :
- Pandemi Covid-19, yang meninggalkan dampak sosial dan psikologis cukup besar;
- Disrupsi digital, yang membuka akses sangat luas terhadap berbagai informasi dan konten;
- Perubahan sosial yang cepat, yang memengaruhi pola relasi, pergaulan, serta cara anak menghadapi berbagai persoalan hidup;
- Kemudahan akses digital membuat anak dan remaja dapat dengan mudah terpapar berbagai konten yang tidak layak, seperti pornografi, kekerasan, maupun perilaku menyimpang. Paparan tersebut berpotensi memengaruhi perkembangan psikologis serta cara pandang mereka terhadap relasi sosial dan kehidupan.
Di sisi lain, generasi yang tumbuh di tengah kemudahan teknologi sering kali menghadapi kompleksitas masalah yang lebih tinggi, sementara ketahanan mental mereka belum sepenuhnya terbentuk dengan kuat. Kondisi ini membuat sebagian anak dan remaja menjadi lebih rentan ketika menghadapi tekanan, konflik pertemanan, maupun tuntutan akademik.
Sebagai langkah preventif, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat menginisiasi penyusunan “Modul Pertolongan Pertama Jika Hati Terluka.” Modul ini dirancang sebagai panduan sederhana dan mudah dipahami bagi anak, remaja, maupun masyarakat luas ketika menghadapi tekanan emosional atau guncangan mental. Materi dalam modul tersebut akan memuat berbagai langkah praktis, seperti :
- Mengenali tanda-tanda tekanan psikologis;
- Cara menenangkan diri ketika menghadapi masalah;
- Langkah awal mengelola emosi dan stres;
- Mengetahui tempat atau pihak yang dapat dihubungi untuk mendapatkan bantuan.
Modul ini direncanakan akan disusun dalam format digital maupun cetak, sehingga dapat digunakan secara luas di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat.
Selain itu, modul tersebut juga akan menjadi bagian dari upaya penguatan bimbingan konseling di sekolah, dengan melibatkan peran guru bimbingan konseling dan wali kelas sebagai garda terdepan dalam mendampingi siswa yang menghadapi permasalahan psikologis.
Sekda Jabar menekankan bahwa pendekatan kesehatan mental tidak boleh hanya bersifat reaktif ketika terjadi kasus, tetapi harus lebih menekankan pada edukasi, pencegahan, dan penguatan ketahanan mental sejak dini.
Melalui inisiatif ini, diharapkan anak-anak dan remaja di Jawa Barat memiliki bekal pengetahuan serta kemampuan untuk memahami kondisi emosionalnya, berani mencari bantuan ketika menghadapi masalah, serta mampu mengelola tekanan hidup dengan lebih sehat.
Langkah ini menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk membangun generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat secara mental, sehat secara emosional, dan tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Penulis : Tim Media DP3APPKB
Pengolah Informasi/Editor : Annisa Nurul Pratiwi
Instagram : dp3appkb.kotacirebon
Kontak Perasaan : 0817122271
Terkini
Terpopuler