Artikel

Gunung Bukan Tempat Kabur dari Luka : Persiapkan Mental dan Fisik

8 Januari 2026
DINAS PEMBERDAYAAN PEREMPUAN, PERLINDUNGAN ANAK, PENGENDALIAN PENDUDUK DAN KELUARGA BERENCANA
302
Bagikan ke
Gunung Bukan Tempat Kabur dari Luka : Persiapkan Mental dan Fisik

Belajar dari Hilangnya Pendaki Muda di Gunung Slamet

Beberapa waktu lalu, kabar hilangnya seorang pendaki muda di Gunung Slamet membuat banyak orang terdiam dan sedih. Syafiq Ridhan Ali Razan (18), pendaki asal Magelang, mendaki melalui jalur Dipajaya bersama seorang teman dengan rencana sederhana, naik bersama dan turun bersama. Namun, di tengah perjalanan, temannya mengalami cedera kaki. Syafiq memutuskan turun lebih dulu untuk mencari bantuan. Sang teman akhirnya berhasil ditemukan, terdapat sebuah plakat kecil berisi pesan personal yang ia bawa selama pendakian. 
"HI MANTAN, DAPAT SALAM DARI GUNUNG SLAMET 3428 MDPL"
Sekilas terkesan ringan dan bercanda, tetapi jika dibaca lebih dalam, tersirat cerita tentang hati yang sedang tidak baik baik saja.

Jangan Terjebak FOMO, Mendaki Gunung Bagi Anak Muda Bukan Sekedar Mengejar Pemandangan
Melihat teman menaklukkan gunung populer sering memicu dorongan impulsif untuk ikut mendaki, bukan karena kesiapan, melainkan takut tertinggal tren atau ingin diakui. Akibatna, pendakian dilakukan tanpa persiapan memadai, padahal gunung adalah ekosistem ekstrem yang tak bisa disepelekan.
Bagi sebagain anak muda, atau sering kita sebut "Gen Z", gunung juga dijadikan tempat pelarian emosional. Padahal mendaik bukan solusi atas luka batin. Saat mental tak stabil, risiko salah mengambil keputusan pun meningkat, dan alam tak pernah berkompromi.

Gunung adalah Alam yang Tak Bisa Ditawar
Mendaki gunung bukan hanya tentang kekuatan fisik, tetapi juga tentang kesiapan mental. Mendaki gunung tidak hanya soal kekuatan fisik, tetapi juga kesiapan mental. Cuaca yang berubah, jalur terjal, dan tekanan selama pendakian kerap menjadikan kondisi batin sebagai penentu keberlanjutan perjalanan. Mental yang stabil, dibangun melalui pengalaman dan pemahaman diri, penting untuk menjaga fokus dan ketepatan mengambil keputusan. Mendaki saat mental tidak siap bukan tindakan heroik ataupun moment healing, melainkan langkah yang berisiko. 
Penting disadari bahwa gunung adalah lingkungan ekstrem, cuaca tak tentu, jalur dapat memicu kepanikan, dan emosi yang tidak stabil akan menurunkan konsentrasi. Ini bukan tentang menyalahkan siapa pun, tetapi menjadi pelajaran bersama agar pendakian dilakukan dengan kesiapan fisik dan mental yang seimbang.

Keselamatan Pendakian Itu Bukan Cuma Soal Perlengkapan
Gunung bukan sekedar tempat pelesiran, ia menyimpan risiko, menuntut persiapan yang matang. Mendaki juga bukan ruang pelampiasan ego atau ajang adu kuat, cepat, dan gaya. Hakikat pendakian adalah menyatu dengan alam, dan memahami keterbatasan diri.
Keselamatan dalam pendakian tidak hanya soal perlengkapan, tetapi juga kondisi mental, kesiapan mengambil keputusan, serta keberanian untuk jujur pada diri sendiri saat merasa tidak kuat. Jika hati sedang berat, tak ada salahnya bercerita kepada teman, beristirahat sejenak, atau menunda pendakian. Gunung akan selalu ada, tapi nyawa hanya ada satu.

Pesan Penting Untuk Kita Semua
Mendaki gunung memberi ketenangan dan rasa pencapaian, namun akan aman jika keselamatan diutamakan. Persiapan fisik, mental, pemilihan gunung, cuaca, perlengkapan, dan alat komunikasi wajib diperhatikan. Perhatikan kondisi diri sendiri dan orang disekitar, berani mengakui saat merasa lelah, sedih, sakit, atau tertekan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap keselamatan bersama.
Pesan ini juga penting untuk generasi muda (Gen Z), merasa rapuh bukanlah hal yang salah, tetapi jangan menghadapi semuanya sendirian. Bagi teman dan komunitas, kepekaan untuk mendengarkan, memberi ruang bercerita, dan saling menjaga menjadi kunci agar setiap pendakian tetap aman. Bagi seluruh pendaki, ingatlah bahwa prinsip naik bersama dan turun bersama bukan sekedar slogan, jangan memisahkan diri dan jangan merasa paling kuat.

"Salam dari Gunung Slamet ini bukan ditujukan untuk siapa pun secara personal, melainkan untuk kita semua, agar lebih peduli pada kesehatan fisik dan mental, lebih berhati-hati, serta lebih berani saling menjaga dan saling mendengarkan dalam setiap langkah pendakian. Jangan ragu untuk berbicara dan menyampaikan apa yang dirasakan, karena suara yang didengar tepat waktu bisa mencegah hal-hal yang tidak diinginkan"

Referensi : 
  1. Muhammadiyah Disaster Management Center. (2025). FOMO Hiking: Gunung tidak seperti mal. Diakses dari https://mdmc.pwmjateng.com/fomo-hiking-gunung-tidak-seperti-mal/
  2. IDN Times. (2025). 7 Persiapan Mental yang Wajib Dilakukan Sebelum Naik Gunung, Penting! IDN Times. https://www.idntimes.com/men/attitude/persiapan-mental-yang-wajib-dilakukan-sebelum-naik-gunung-penting-c1c2-01-9mwsv-tmp5q6
  3. Digital Mama. (2025). Jangan FOMO, Ini Panduan Mendaki Gunung untuk Pemula. digitalMamaID. https://digitalmama.id/2025/07/jangan-fomo-ini-panduan-mendaki-gunung-untuk-pemula/

Penulis : Suwarso Budi Winarno

Pengolah Informasi/Editor : Annisa Nurul Pratiwi

Olah GrafisIbnu Pratama Wahyudin

Instagram : dp3appkb.kotacirebon

Bagikan ke