Artikel

Orang Tua adalah Rumah Pertama: Saatnya Lebih Peka Mencegah Kekerasan pada Anak

2 Maret 2026
DINAS PEMBERDAYAAN PEREMPUAN, PERLINDUNGAN ANAK, PENGENDALIAN PENDUDUK DAN KELUARGA BERENCANA
205
Bagikan ke
Orang Tua adalah Rumah Pertama: Saatnya Lebih Peka Mencegah Kekerasan pada Anak

Kasus kekerasan kembali menjadi perhatian publik. Di Cirebon, beredar rekaman yang memperlihatkan seorang pelajar menjadi korban tindakan kekerasan oleh sekelompok remaja. Peristiwa tersebut kemudian menyebar luas melalui media sosial dan grup percakapan sekolah, memicu keprihatinan masyarakat.

Di waktu yang hampir bersamaan, insiden kekerasan juga terjadi di lingkungan pendidikan tinggi di Pekanbaru. Seorang mahasiswi menjadi korban penganiayaan yang diduga dilakukan oleh mahasiswa yang merupakan orang yang dikenalnya. Peristiwa itu disebut berkaitan dengan persoalan pribadi dan menunjukkan adanya tindakan yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Dua peristiwa ini, yang menimpa seorang anak dan seorang perempuan remaja, menjadi pengingat bahwa kekerasan tidak terjadi secara tiba-tiba. Sering kali ia bermula dari emosi yang tak terkendali, komunikasi yang terhambat, serta ketiadaan ruang aman untuk mengungkapkan perasaan dan menyelesaikan masalah dengan cara yang sehat.

Orang Tua adalah Rumah Pertama

Seorang anak dan remaja berada dalam tahap penting pencarian jati diri, di mana mereka belajar memahami emosi, menjalin hubungan sosial, dan membentuk karakter. Pada fase ini, peran orang tua sangat menentukan. Rumah bukan hanya tempat untuk pulang, tetapi menjadi lingkungan pertama bagi anak untuk mengenal nilai kasih sayang, empati, serta cara menyikapi dan menyelesaikan konflik.

Oleh karena itu, kehadiran orang tua tidak cukup sebatas fisik, melainkan juga harus menyentuh sisi emosional. Anak perlu merasa didengar tanpa dihakimi, dipahami tanpa disalahkan, dan didampingi tanpa tekanan. Saat rumah menjadi ruang yang aman dan nyaman, anak akan lebih terbuka berbagi persoalan, baik tentang pertemanan, hubungan pribadi, maupun semua dinamika yang mereka rasakan. Sebaliknya, ketika anak merasa takut atau tidak dimengerti, ia cenderung memendam masalah yang berpotensi berubah menjadi luapan emosi atau perilaku agresif. Dalam situasi kekerasan, baik korban maupun pelaku sesungguhnya sama-sama membutuhkan perhatian dan pendampingan.

Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati

Kekerasan, baik fisik maupun non-fisik, sering kali dianggap sepele. Padahal dampaknya sangat serius. Korban dapat mengalami trauma, kehilangan rasa percaya diri, bahkan gangguan kesehatan mental. Sementara pelaku berisiko membawa pola kekerasan hingga dewasa dan berhadapan dengan konsekuensi hukum yang berat.

Pencegahan dari Rumah

Anak perlu diyakinkan bahwa rumah adalah tempat paling aman untuk kembali kapan pun. Tempat untuk menangis, tertawa, dan belajar dari kesalahan tanpa rasa takut dihakimi.

  • Memperhatikan perubahan perilaku anak, seperti menjadi lebih tertutup, mudah marah, atau murung;
  • Membiasakan komunikasi dua arah yang hangat setiap hari;
  • Mengajarkan empati dan menghargai perbedaan;
  • Mengawasi aktivitas digital anak tanpa bersikap represif;
  • Memberikan contoh penyelesaian konflik tanpa kekerasan.

Anak Kita Anak Bersama, Tanggung Jawab Bersama

Setiap anak berhak merasa aman. Setiap anak berhak didengar. Mari lebih peka, lebih hadir, dan lebih peduli. Lindungi anak-anak kita hari ini, demi masa depan mereka esok.

Mencegah kekerasan bukan hanya tugas keluarga, tetapi juga sekolah, masyarakat, dan seluruh elemen lingkungan sosial. Namun, fondasi pencegahan kekerasan tetap berawal dari rumah, sebab ketika anak dibesarkan dalam lingkungan yang penuh kasih sayang, perhatian, dan dukungan, risiko munculnya perilaku kekerasan dapat diminimalkan.

Penulis : Annisa Nurul Pratiwi

Pengolah Informasi/Editor : Annisa Nurul Pratiwi

Infografis : Ibnu Pratama Wahyudin

Instagram : dp3appkb.kotacirebon

Kontak Perasaan : 0817122271

Bagikan ke