Kasus kekerasan kembali menjadi perhatian publik. Di Cirebon, beredar rekaman yang memperlihatkan seorang pelajar menjadi korban tindakan kekerasan oleh sekelompok remaja. Peristiwa tersebut kemudian menyebar luas melalui media sosial dan grup percakapan sekolah, memicu keprihatinan masyarakat.
Di waktu yang hampir bersamaan, insiden kekerasan juga terjadi di lingkungan pendidikan tinggi di Pekanbaru. Seorang mahasiswi menjadi korban penganiayaan yang diduga dilakukan oleh mahasiswa yang merupakan orang yang dikenalnya. Peristiwa itu disebut berkaitan dengan persoalan pribadi dan menunjukkan adanya tindakan yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Dua peristiwa ini, yang menimpa
seorang anak dan seorang perempuan remaja, menjadi pengingat bahwa kekerasan
tidak terjadi secara tiba-tiba. Sering kali ia bermula dari emosi yang tak
terkendali, komunikasi yang terhambat, serta ketiadaan ruang aman untuk
mengungkapkan perasaan dan menyelesaikan masalah dengan cara yang sehat.
Orang Tua adalah Rumah Pertama
Seorang anak dan remaja berada dalam
tahap penting pencarian jati diri, di mana mereka belajar memahami emosi,
menjalin hubungan sosial, dan membentuk karakter. Pada fase ini, peran orang
tua sangat menentukan. Rumah bukan hanya tempat untuk pulang, tetapi menjadi
lingkungan pertama bagi anak untuk mengenal nilai kasih sayang, empati, serta
cara menyikapi dan menyelesaikan konflik.
Oleh karena itu, kehadiran orang tua
tidak cukup sebatas fisik, melainkan juga harus menyentuh sisi emosional. Anak
perlu merasa didengar tanpa dihakimi, dipahami tanpa disalahkan, dan didampingi
tanpa tekanan. Saat rumah menjadi ruang yang aman dan nyaman, anak akan lebih
terbuka berbagi persoalan, baik tentang pertemanan, hubungan pribadi, maupun
semua dinamika yang mereka rasakan. Sebaliknya, ketika anak merasa takut atau
tidak dimengerti, ia cenderung memendam masalah yang berpotensi berubah menjadi
luapan emosi atau perilaku agresif. Dalam situasi kekerasan, baik korban maupun
pelaku sesungguhnya sama-sama membutuhkan perhatian dan pendampingan.
Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati
Kekerasan, baik fisik maupun non-fisik, sering kali dianggap sepele. Padahal dampaknya sangat serius. Korban dapat mengalami trauma, kehilangan rasa percaya diri, bahkan gangguan kesehatan mental. Sementara pelaku berisiko membawa pola kekerasan hingga dewasa dan berhadapan dengan konsekuensi hukum yang berat.
Pencegahan dari Rumah
Anak perlu diyakinkan bahwa rumah
adalah tempat paling aman untuk kembali kapan pun. Tempat untuk menangis,
tertawa, dan belajar dari kesalahan tanpa rasa takut dihakimi.
- murung;Anak Kita Anak
Bersama, Tanggung Jawab Bersama
Setiap anak berhak merasa aman. Setiap anak berhak didengar. Mari lebih peka, lebih hadir, dan lebih peduli. Lindungi anak-anak kita hari ini, demi masa depan mereka esok.
Mencegah kekerasan bukan hanya tugas keluarga, tetapi juga sekolah, masyarakat, dan seluruh elemen lingkungan sosial. Namun, fondasi pencegahan kekerasan tetap berawal dari rumah, sebab ketika anak dibesarkan dalam lingkungan yang penuh kasih sayang, perhatian, dan dukungan, risiko munculnya perilaku kekerasan dapat diminimalkan.
Penulis : Annisa Nurul Pratiwi
Pengolah Informasi/Editor : Annisa Nurul Pratiwi
Infografis : Ibnu Pratama Wahyudin
Instagram : dp3appkb.kotacirebon
Kontak Perasaan : 0817122271