Berpuluh tahun berada di lingkungan BKPSDM memberikan satu pelajaran penting: manusia adalah talenta yang harus terus tumbuh, ditempatkan pada ruang yang tepat, dan diberi kesempatan untuk memberikan dampak.

Hari ini, Ibu Olly Febiyanti memasuki ruang pengabdian yang berbeda.

Dari manajemen sumber daya manusia menuju Pemenuhan Hak Anak.

Saya melihat perpindahan ini bukan sekadar rotasi atau promosi jabatan. Ini adalah bagian dari perjalanan manajemen talenta: bagaimana pengalaman, kompetensi, dan karakter seseorang menemukan ruang baru untuk memberikan manfaat yang lebih besar.

Dan tantangannya tidak sederhana.

Kota Layak Anak bukan sekadar predikat

Kota Layak Anak pada  bukan tentang seberapa banyak penghargaan yang kita terima, seberapa banyak kegiatan yang kita selenggarakan, atau seberapa indah laporan yang kita susun.

Pertanyaan sederhananya adalah :

  1. Apakah anak-anak di Kota Cirebon benar-benar merasa aman?

  2. Apakah mereka didengar?

  3. Apakah hak mereka terpenuhi?

  4. Apakah mereka memiliki ruang untuk tumbuh, bermain, belajar, bermimpi, dan menjadi dirinya sendiri?

Karena sesungguhnya, Kota Layak Anak adalah impian semua anak.

Dan tugas birokrasi adalah memastikan impian itu tidak berhenti menjadi slogan.

Birokrasi harus berdampak

Saya sering menggunakan sebuah perumpamaan sederhana.

Seperti kucing.

Kita bisa memperdebatkan warna bulunya. Kita bisa membuatnya terlihat gagah, bersih, dan menarik.

Tetapi ketika ada tikus di depan mata dan kucing itu tidak mampu menangkapnya, maka pertanyaan paling penting bukan lagi apa warna kucingnya, tetapi:

untuk apa kucing itu ada?

Begitu pula birokrasi.

Kita boleh berbicara tentang struktur, regulasi, aplikasi, indikator, reformasi, kompetensi, bahkan berbagai predikat.

Tetapi ukuran akhirnya tetap sederhana:

Apakah birokrasi mampu menyelesaikan persoalan masyarakat?

Itulah makna birokrasi berdampak.

Ketika “kucing” kehilangan naluri menangkap tikus, ada fenomena menarik.

Kucing yang terlalu lama diberi makanan pabrikan, pada suatu titik bisa saja tidak lagi tertarik mengejar tikus.

  • Ia tidak lapar.

  • Ia sudah nyaman.

  • Makanan tersedia tanpa harus berburu.

Ini tentu hanya sebuah metafora. Tetapi kita bisa belajar sesuatu darinya.

Jangan sampai birokrasi terlalu lama berada dalam zona nyaman: terbiasa dengan rutinitas, sibuk dengan administrasi, mengejar kelengkapan dokumen, tetapi kehilangan kepekaan terhadap persoalan nyata yang ada di depan mata.

Birokrasi yang terlalu nyaman bisa kehilangan naluri pengabdiannya.

Karena itu, manajemen talenta tidak cukup hanya mencari siapa yang kompeten.

Kita juga harus mencari dan menumbuhkan orang-orang yang punya keberanian menghadapi persoalan, kepekaan membaca kebutuhan masyarakat, dan kemauan untuk menghasilkan perubahan.

Dan tantangan kita adalah Generasi Strawberry. Di sisi lain, kita sedang berhadapan dengan generasi yang tumbuh dalam dunia yang sangat berbeda. Sering disebut sebagai generasi strawberry—terlihat menarik dan memiliki banyak potensi, tetapi dikhawatirkan mudah rapuh ketika menghadapi tekanan. Tentu kita tidak boleh memberi label bahwa semua anak dan generasi muda seperti itu.

Justru tantangannya adalah bagaimana kita membangun lingkungan yang membuat mereka bukan hanya pintar, tetapi tangguh; bukan hanya kreatif, tetapi bertanggung jawab; bukan hanya berani bermimpi, tetapi mampu menghadapi kegagalan.

Di sinilah makna Kota Layak Anak menjadi jauh lebih luas.

  • Kita tidak hanya melindungi anak dari kekerasan.

  • Kita juga harus menyiapkan mereka menghadapi kehidupan.

  • Memberikan ruang untuk mencoba.

  • Memberikan kesempatan untuk salah dan belajar.

  • Membangun karakter.

  • Mengajarkan tanggung jawab.

  • Menumbuhkan empati.

Dan yang paling penting, membuat mereka merasa bahwa ada orang dewasa yang hadir dan percaya kepada mereka.

Dari BKPSDM untuk Anak-Anak Cirebon

Mungkin inilah benang merah perjalanan Bu Olly. Selama berpuluh tahun di BKPSDM, kita berbicara tentang manusia yang menggerakkan birokrasi.

Kini, di DP3APPKB, pengabdiannya bersentuhan dengan manusia yang akan menjadi masa depan kota ini: anak-anak.

Dari manajemen talenta menuju pemenuhan hak anak. Dari mengelola orang-orang yang bekerja untuk pemerintah, menuju memastikan generasi yang kelak akan membangun kota mendapatkan hak dan kesempatan terbaiknya.

Sebuah perjalanan yang berbeda ruang, tetapi tetap memiliki satu tujuan :

menciptakan manusia yang lebih baik dan Kota Cirebon yang lebih baik.

Selamat menjalankan amanah baru, Bu Olly.

Semoga pengalaman panjang di BKPSDM menjadi bekal untuk menghadirkan kebijakan yang tidak hanya selesai di atas kertas, tetapi terasa manfaatnya oleh anak-anak dan keluarga di Kota Cirebon. Birokrasi tidak dinilai dari seberapa indah warnanya, tetapi dari seberapa banyak persoalan yang mampu diselesaikannya. Dan Kota Layak Anak tidak dibangun untuk mendapatkan predikat. Ia dibangun karena setiap anak berhak memiliki kota yang aman, bahagia, didengar, dan memberi mereka kesempatan untuk bermimpi.

Karena semua anak adalah anak kita. Semoga Allah SWT selalu menjaga dan memudahkan kita, di mana pun kita bertugas.

Selamat melangkah, Bu Olly.

Sukses selalu.

Penulis : Suwarso Budi Winarno, Kepala BKPSDM Kota Cirebon

Pengolah Informasi/Penyunting : Annisa Nurul Pratiwi

Kontak Perasaan : 0817122271

Instagram : dp3appkb.kotacirebon