Stunting bukan sekadar masalah kurang gizi pada balita, melainkan sebuah siklus panjang yang berakar sejak masa remaja dan kualitas kesehatan reproduksi calon orang tua. Menurut data WHO, diperkirakan 178 juta anak di bawah usia lima tahun di seluruh dunia mengalami gangguan pertumbuhan ini. Secara medis, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis dalam rentang waktu lama, terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Masalah ini sudah dimulai sejak anak dalam kandungan, tetapi umumnya baru terlihat saat memasuki usia dua tahun melalui indikator tinggi badan yang berada di bawah standar median usianya (-2 SD).

Mengapa Kesehatan Reproduksi Berkaitan Erat dengan Stunting?
Ada tiga alasan utama mengapa kondisi kesehatan organ reproduksi seseorang menentukan risiko anak lahir stunting:
Dampak Pernikahan Usia Dini dan Kehamilan Remaja
Remaja perempuan yang hamil di bawah usia 20 tahun secara biologi organ reproduksinya belum matang sempurna. Tubuh ibu remaja masih membutuhkan nutrisi untuk pertumbuhannya sendiri, sehingga harus berebut gizi dengan janin di dalam kandungan. Kondisi ini meningkatkan risiko bayi lahir dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), yang merupakan pemicu utama stunting.Anemia pada Remaja Putri dan Calon Pengantin
Kesehatan reproduksi sangat dipengaruhi oleh kadar hemoglobin (Hb) dalam darah. Remaja putri yang menderita anemia berisiko tinggi mengalami masalah plasenta saat hamil nanti. Akibatnya, aliran nutrisi ke janin terhambat dan memicu pertumbuhan janin yang tidak optimal (intrauterine growth restriction).Pola Jarak Kehamilan yang Terlalu Dekat (Slogan “4 Terlalu”)
Faktor reproduksi seperti hamil Terlalu Muda, Terlalu Tua, Terlalu Dekat jaraknya, dan Terlalu Banyak anak merugikan rahim ibu. Rahim yang belum pulih pasca melahirkan tidak mampu memberikan nutrisi terbaik untuk kehamilan berikutnya, sehingga memicu risiko stunting.
Strategi Intervensi DP3AKB Kota Cirebon dalam Pencegahan Stunting
Melalui integrasi program pemberdayaan perempuan dan Keluarga Berencana (KB), institusi DP3APPKB khususnya bidang KBKS (Keluarga Berencana Keluarga Sejahtera) menjalankan langkah-langkah preventif berikut:
Edukasi Remaja Melalui Genre (Generasi Berencana): Mengampanyekan usia ideal menikah (minimal 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki).
Pendampingan Calon Pengantin (Catin): Bekerja sama dengan fasilitas kesehatan untuk skrining kesehatan reproduksi, termasuk pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) untuk mencegah anemia sejak dini.
Optimalisasi Program KB: Membantu ibu mengatur jarak kehamilan menggunakan alat kontrasepsi agar tubuh ibu pulih optimal sebelum hamil kembali.
Penyuluhan Pengasuhan 1.000 HPK: Mengedukasi orang tua mengenai pentingnya ASI eksklusif dan MPASI padat gizi untuk bayi.
Referensi Utama Tulisan :
Kementerian Kesehatan RI. Mengenal Stunting dan Gizi Buruk: Penyebab, Gejala, dan Mencegah
Dinas Komunikasi dan Informatika. Kesehatan Reproduksi Jadi Bekal Cegah Stunting. Ulasan mengenai risiko persalinan di bawah usia 20 tahun dan pentingnya pendewasaan usia perkawinan.
Risiko Kehamilan “4 Terlalu” pada ibu hamil. Pola Jarak Kehamilan yang Terlalu Dekat
Media Sosial Resmi DP3APPKB Kota Cirebon
Sumber Foto : Cegah Stunting
Penulis :
Radhita Syafarillah
Alya Maulida
Pengolah Informasi/Penyunting : Annisa Nurul Pratiwi
Kontak Perasaan : 0817122271
Instagram : dp3appkb.kotacirebon