Meningkatnya perhatian publik terhadap kasus dugaan penculikan anak di Kota Cirebon memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Di tengah situasi tersebut, peran orang tua kembali ditegaskan sebagai faktor utama dalam upaya pencegahan kekerasan dan penculikan terhadap anak.
Hal ini disampaikan Kepala UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) DP3APPKB Kota Cirebon, Linda Desyani, dalam Dialog “Menyapa Pagi” di RRI, Selasa (14 April 2026). Menurutnya, pencegahan tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus dimulai dari lingkungan paling dekat dengan anak, yaitu keluarga.
PEMULIHAN KORBAN SEBAGAI PENYINTAS
Dalam penanganan kasus kekerasan terhadap anak, Linda menegaskan bahwa pihaknya menempatkan pemulihan korban sebagai prioritas utama. Anak yang mengalami peristiwa traumatis seperti penculikan tidak hanya membutuhkan perlindungan fisik, tetapi juga pendampingan psikologis yang berkelanjutan.
“Fokus kami sebenarnya kepada korban, apa yang harus kita siapkan untuk mendampingi korban. Anak ini adalah penyintas, ia berhasil keluar dari kejadian mengerikan sehingga pemulihan mental sangat penting,” ujar Linda.
Ia menjelaskan, dampak psikologis dari peristiwa traumatis dapat berlangsung jangka panjang apabila tidak ditangani dengan tepat. Karena itu, pendampingan tidak berhenti pada saat kasus selesai, tetapi harus berlanjut hingga anak benar-benar pulih dan mampu kembali menjalani aktivitas secara normal.
PENCEGAHAN DIMULAI DARI KELUARGA
Di sisi lain, Linda menegaskan bahwa upaya pencegahan akan jauh lebih efektif jika dilakukan sejak dini, dengan orang tua memegang peran sentral dalam memberikan edukasi tentang keamanan diri kepada anak. Ia menjelaskan bahwa anak tidak serta-merta memahami konsep bahaya, sehingga pemahaman mengenai keselamatan perlu disampaikan secara berulang dan konsisten agar benar-benar tertanam.
“Anak tidak serta-merta mengetahui apa itu bahaya. Oleh karena itu, pesan tentang keamanan harus disampaikan secara terus-menerus dan konsisten,” katanya.
Edukasi ini mencakup pengenalan terhadap orang asing, situasi yang tidak aman, serta cara merespons ketika berada dalam kondisi yang mencurigakan.
MELATIH KEBERANIAN ANAK UNTUK BERKATA "TIDAK"
Linda juga menekankan pentingnya menumbuhkan keberanian anak untuk menolak ajakan yang tidak aman, mengingat banyak kasus bermula dari pendekatan sederhana seperti pemberian makanan, hadiah, atau ajakan yang tampak ramah. Oleh karena itu, anak perlu dilatih secara konsisten agar mampu berkata “tidak” tanpa rasa takut, terutama saat berhadapan dengan orang yang tidak dikenal.
Ia juga menyarankan agar orang tua tidak hanya memberikan nasihat verbal, tetapi juga melakukan simulasi atau role play agar anak lebih mudah memahami situasi nyata.
“Anak harus dikenalkan untuk berani menolak. Ketika bertemu orang asing, mereka harus mampu membedakan mana orang yang aman dan mana tempat yang aman untuk berlindung,” ujarnya.
MENGENALKAN TEMPAT AMAN DAN PIHAK YANG BISA DIPERCAYA
Selain kemampuan menolak, anak juga perlu dibekali pengetahuan tentang tempat aman serta pihak-pihak yang dapat membantu mereka ketika berada dalam situasi darurat di ruang publik.
Hal ini penting agar anak tidak panik dan tahu langkah apa yang harus dilakukan ketika merasa terancam, seperti mencari petugas keamanan, guru, atau orang dewasa yang dapat dipercaya.
PENDIDIKAN BATASAN TUBUH DAN KOMUNIKASI TERBUKA
Lebih jauh, Linda menekankan
pentingnya pendidikan mengenai batasan tubuh sebagai bagian dari pendidikan
perlindungan diri sejak usia dini. Anak perlu memahami bahwa ada bagian tubuh
tertentu yang tidak boleh disentuh oleh orang lain tanpa izin.
“Anak harus mengetahui tentang batasan diri dan organ tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain. Ini bagian dari pendidikan seks usia dini yang sangat penting,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa komunikasi yang hangat dan terbuka antara orang tua dan anak menjadi fondasi utama dalam perlindungan anak. Dengan komunikasi yang baik, anak akan merasa aman untuk bercerita jika mengalami hal yang tidak nyaman atau mencurigakan.
“Komunikasi yang baik akan membuat anak tidak takut untuk melapor jika ada hal yang mengancam,” pungkasnya.
Kasus kekerasan dan dugaan penculikan anak menjadi pengingat bahwa perlindungan anak bukan hanya tugas pemerintah atau lembaga terkait, tetapi juga tanggung jawab utama keluarga. Edukasi sejak dini, komunikasi yang sehat, serta keberanian anak untuk melindungi diri menjadi kunci penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi generasi mendatang.
Penulis : Tim Media DP3APPKB
Pengolah Informasi/Penyunting : Annisa Nurul Pratiwi
Instagram : dp3appkb.kotacirebon
: 0817122271